Senin, 03 April 2017

[Night Of Diaries] My Spirit Goes Away

Kamu adalah hal yang berbeda. Bertolak belakang. Menjijikan. Memalukan. Menyebalkan. Yang anehnya, semua tawa dan gesture mu saat berbicara, just two of us bagaikan lukisan yang bernafas di atas kanvas.

Matahari sudah tepat diatas kepala. Aku masih tergeletak sehar- iyak, dua hari diatas kasur. Bukan karna sakit, apalagi tifus. Karena aku menikmati hari libur dari rutinitas sehari-hari. Seandainya kemarin sore tidak hujan, pada satnight aku akan menonton Spirited Away yang tengah screening seminggu di tanah air. Hati sudah bulat, dengan uang dikantong ala kadar. Aku memaksa beli tiket film Ghibli tsb via online.

Tiba di Mall Taman Anggrek, aku langsung menuju XXI yang berada di lantai 4. Waktu aku tidak banyak, jika bukan gara-gara abang gojek yang kebanyakan-omong-tapi-jalan-kaya-siput (Well berkat dia juga sih aku bisa tahu letak persis lokasi pustaka kota barat) aku tidak akan semepet ini datangnya. Memakai kaos biasa dengan jaket dan tas kecil di bahu, aku kaget melihat antrian yg banyak dan cukup bikin bete. Yang lebih betenya lagi ternyata aku tidak perlu menukar tiket online tsb dengan yang fisik, fvck -_-

Minggu, 16 Oktober 2016

[Night Of Diaries] Girl Who Don't Date

Salah satunya adalah saya.
Orang bahkan bertanya-tanya mengapa saya tetap saja memilih sendirian dan tidak mengisi hati dengan seseorang yang spesial. Sementara seseorang yang saya adore saja, yang kini telah dipulau dewata telah memiliki seseorang yang membuat hatinya berdebar. Walaupun belakangan di tempat kerja, entah rekan atau atasan saya menyuruh untuk menerima saja nasabah yang mengejar-ngejar saya. Bagaimana mungkin saya menerima nasabah yang usiany sudah menginjak kepala 3 sementara saya saja belum genap 20? -_-. Pun teman lama kini sedang berambisi mengenalkan saya dengan seorang rekan kerjanya di showroom tempat ia bekerja. Aah.. memangnya apa yang salah dengan tidak memiliki pacar?

“Wajah cantik, otak encer, badan ya.... agak gemukan lah. Tapi jomblo? Hmm.. jangan-jangan...“ ujar rekan sebelah kiri saya di seorang teller juga, pria tentunya dan iya dia memiliki pacar (Perlukah saya menekankan bahwa saya satu-satunya teller yang masih single di cabang?) yang bahkan menduga saya adalah seorang lesbian. Well, yang saya tahu saya jatuh cinta dengan seseorang karena siapa sosok seseorang itu, dan hanya orang itu. Toh saya juga tidak pernah membayangkan bila suatu saat saya bisa jatuh cinta dengan seorang gadis.

[Night Of Diaries] Tim Baru, Lingkungan Baru

Akhir-akhir ini saya tidak sempat update blog pribadi, padahal otak rasanya tidak kuat menahan ide dikepala dan hati tidak kuat menahan curahan yang hendak tumpah. Pun alasan saya tidak sempat masih berhubungan dengan kesibukkan pekerjaan dan kuliah. Maklum saja dua bulan belakangan saya masih proses adaptasi dilingkungan bekerja yang baru, di bidang perbankan. Bidang yang bahkan saya sendiri tidak pernah mencicipinya, yang rata-rata pekerjanya kuliah jurusan yang bersangkutan (entah jurusan ekonomi, akuntansi walaupun sebenarnya agak berbeda dengan perbankan dsb). Belum lagi jam terbangnya yang belum pernah saya rasakan di pekerjaan saya sebelumnya yakni bekerja jam kantor, Senin-Jumat.

Saya menjadi teller berblazer biru di salah satu bank daerah Kota Tua. Lumayan dekat dari rumah sehingga saya cukup bersyukur ditempatkan di daerah tersebut. Akan selalu ada suatu hal yang menjadi 'pertama kali'. Kalimat itu yang selalu saya ingat saat pertama kali terjun di cabang saya yang memiliki gedung dengan tiga lantai itu. Dengan seragam hitam putih dan badan kecil berambut pendek, saya tidak malu bertanya pada senior-senior yang ada, mereka yang terlebih dahulu berkecimpung dalam dunia teller.

Senin, 08 Agustus 2016

[Movie] Deep Red Love (赤赤煉戀)


Menurut Joko Anwar, pada hakikatnya arti movie dan film itu sama. Tetapi, adapula artian yang mengacu bahwa movie lebih ke bentuk profit hiburan, sedangkan film sendiri lebih mengutamakan seni artistiknya. Well, apapun itu saya tetap menganggap kedua istilah tersebut sama, dijudul saya akan menggunakan tag movie dan saat pembahasannya menggunakan kata film (agar lebih mudah).

Setelah hari sabtu lalu saya menonton Bilocation (secara tidak sengaja), rupanya Waku Waku Japan juga akan menayangkan film horror lainnya di hari minggu. What I Long For, demikian judul yang tertera pada channel di tv kabel tersebut. Tak puas dengan informasi yang tercantum di tv, saya bersusah payah mencari ke om gugel dan yang saya dapatpun sama informasinya mengenai film yang dirilis tahun 2013. Kecewa. Dan ternyata film ini lebih dikenal dengan judul Seki Seki Ren Ren atau Deep Red Love.

Selintas penonton hanya disuguhkan kehidupan gadis sekolah menengah yang biasa bernama Juri. Menggunakan seragam outer cokelat, ia berkeliling dari rumah hingga ke gedung sekolahnya. Duduk dikursi belakang tempatnya dan menguping gosip para gadis yang tengah bolos di ruang olahraga. Mungkin kita sudah mengira bahwa Juri ini adalah roh, dan itu benar sekali. Ia juga baru menyadari dirinya sudah mati karena bunuh diri lompat dari atap sekolah pun lupa, apa alasan ia bunuh diri?.

Sabtu, 30 Juli 2016

[Novel] Relung-Relung Gelap Hati Sisi Oleh Mira W.

..kalau benar cinta namanya
perasaan yang berkobar dihatinya itu!
Dia hanya ingin berada di dekat gadis itu.
Mengobrol. Saling pandang.
Saling bertukar senyum. Memegang tangannya.
Dimana letak kesalahannya?

Terima kasih kepada kawan saya yang tidak mau dipanggil my dear truk-gandeng friend. Gembira tidak kepalang saya menerima hadiah ultah berupa Saman karya Ayu Utami. Berhubung saya juga memang tengah mencarinya kala itu, you know me so well dear~. Karna kan yang berkeliaran di Gramed hanya yang versi Bahasa Inggris, dan itu harganya bisa dua kali lipat (wew).

Tapi bukan novel Saman yang akan saya bahas, melainkan novel yang teman saya itu memaksa untuk membelikannya. Dia yang bersikekeuh untuk memesannya di ol shop ngamuk pada saya untuk membiarkannya membelikannya. Saya menolak. Sudah cukup hadiah yang saya terima darinya. Titik. Tidak bisa diganggu gugat. Well, itulah saya, saat sedang membuat keputusan menolak, maka tidak ada pula tawar menawar. Akhirnya saya transfer lima puluh ribu pada hari kamis, dan pada sabtunya menerima paket berupa sebuah novel bersampul hijau kuning ala kemarau.

Warga sekolah termasuk guru bahkan orang tua mereka tahu, bahwa Sisi dan Airin menjalin hubungan spesial. Walaupun statusnya Airin tengah terikat dengan seorang pria bernama Frans (yang nantinya juga menjadi roommates dan suami). Semenjak dipergoki berpelukan di toilet sekolah saat perpisahan upacara kelulusan itu lah, Sisi memutuskan melupakan Airin, yang tengah meninggalkan tanah air demi mencari kebebasan.